kedua, aki pada mobilku tidak bisa re-charge. karena tidak digunakan selama beberapa hari (terutama sejak pak nasir pergi ke Chili), aki mobilku tidak bisa re-charge. berbagai upaya sudah dilakukan, tapi tidak berhasil. well, satu-satunya solusi sih emang harus sering dipake. Tapi gimana mo pake kalo aki ga re-charge (hmm… kayak lingkaran setan).
yang masih anget, tombol angka 4, 6, dan 0 pada ponsel ku tidak bis dipencet alias rusak. kerusakan baru ketauan kemarin pagi. karena tidak bisa dipencet, terpaksa aku tidak bisa membalas sms, terutama yang mengandung huruf G, H, I, M , N, O, + atau menelepon teman yang mengandung angka tersebut. kerusakan seperti in bukan yang pertama. dulu juga pernah, tapi dengan sedikit kesok-tahu-an ku, aku bisa memperbaikinya. berbekal keyakinan tersenut, kemarin malam aku coba ulangi hal yang sama, tapi rupanya dewa keberuntunganku telah pergi. HP itu sekarang mati. Aku tidak bisa menghidupkannya karena harus memasukkan passkey untuk bisa mengakses simcardku. dan passkey ku mengandung angka 4, 6, 0! blaik tenan….
ketika terjadi kerusakan seperti itu, aku jadi berpikir …
(emang kalo ga rusak ga mikir po..?)
betapa kemudahan yang telah diberikan oleh teknologi telah membuat manusia hidup dalam ketergantungan. Marcuse (1964) menyebutnya sebagai de-sublimasi represif. Suatu keadaan dimana manusia bisa memenuhi kebutuhan melalui produk-produk yang dihasilkan oleh teknologi. Padahal, menurut Marcuse, kebutuhan-kebutuhan itu adalah kebutuhan palsu (false need) yang sengaja diciptakan dengan menggunakan dunia iklan (advertising).
Another thought, aku berusaha mengambil hikmahnya. kerusakan yang terjadi, membuat hidup kami lebih slow, tidak terburu-buru dan pada gilirannya, bisa menikmati hidup
(brarti selama ini ga menikmati hidup po..?)
maksudku, kemajuan teknologi pada titik tertentu telah membawa pusaran kehidupan ku bergerak dengan cepat. pakaian kotor dengan cepat kembali menjadi bersih, perjalanan menjadi lebih cepat karena ada mobil atau keep connect with other by mobile phone…
Hmm.. hidup yang serba cepat memang asik.. tapi kadang melelahkan.. Mungkin ini cara Nya untuk memperlambat irama dan pusaran kehidupan kami, supaya kami lebih punya waktu untuk berefleksi atau sekedar bertegur sapa dengan sekitar..
Sementara mesin-mesin itu diperbaiki, kami bisa mencuci dengan cara konvensional, pake tangan dan menunggu sampe alam yang mengeringkannya sendiri. Kalo mobil ga bisa dipake, selalu ada moda transportasi alternatif, seperti my beloved Honda Pitung (C70) *kalo yang ini sih alasan aja ben ora bw mobil ke kantor.. heheh* Ato kalo ga bisa sms an, yo bisa pake ym, fb ato telepon lokal aja.. Wong dulu semua berjalan lancar tanpa mesin cuci, mobil ato handphone, kenapa sekarang harus risau?



