Sebuah ungkapan yang (mungkin) tidak sengaja terlontar (dan tidak sengaja terdengar olehku) siang ini terus mengangguku. “yah… begitulah pandangan positivistik..”, ungkapan itu dilontarkan sebagai respon atas sebuah pertanyaan dalam sebuah kursus tentang studi keislaman. Entah kenapa, ungkapan itu terus mengangguku dan tergiang-ngiang di telingaku. What’s wrong with being positivistik?
Aku bukan seorang positivistik, tidak juga terlalu interpretatif tapi memang sedang berusaha untuk tetap kritis. Aku hanya sedikit tahu tentang positivistik. Tapi aku suka menginterpretasi segala sesuatu (dan terus mencoba untuk bisa melakukannya) dalam kerangka pandangan seorang kritis*. Tapi apa yang kudengar tadi siang, rasanya tidak pas dihatiku dan upaya-upaya ku untuk tetap bersikap kritis. Bagiku, ungkapan itu adalah salah satu bentuk penghakiman atau stereotyping. Apalagi ungkapan itu dilontarkan oleh seorang yang sudah mempelajari pluralisme.
Tak hanya sekali aku mendengar model penghakiman dan stereotyping semacam itu. Dalam sebuah obrolan tak resmi dengan seorang teman, dia mengemukakan sejumlah teori kenapa usulannya banyak mendapat pertanyaan sedang usulan teman lain (yang menggunakan pendekatan positivistik) tidak. Dari nada bicaranya, aku menangkap kesan bahwa pendekatan ini sudah kuno, ga elit, mengada-ada dan lain sebagainya. Dari diskusi itu, aku menarik kesimpulan awal bahwa pendekatan positivistik berada pada level yang lebih rendah dari pendekatan lain dalam ilmu sosial.
Memang pendekatan positivistik memiliki banyak kelemahan. Tapi kalo menggunakan hukum berpasangan (aku dapet hukum ini dalam materi tentang filsafat hukum islam di kursus yang sama, tapi pembicaranya T O P !!), setiap ada yang positif, pasti ada yang negatif. Dengan demikian, dalam kelemahan pendekatan postivistik, tentu juga ada kekuatannya. Demikian halnya dengan pendekatan interpretatif atau kritis. Oleh karena itu, menurutku yang paling tepat dilakukan adalah bukan mengejek kelemahan, akan tetapi bagaimana memaksimalkan kekuatan agar kelemahan-kelemahan tersebut bisa tertutupi. Jika postivistik punya kelemahan dalam membuat klaim tentang pengetahuan (melalui metodenya mungkin), kenapa tidak memperkaya metode positivistik agar klain tentang pengetahuannya juga jadi lebih kaya? Jika metodenya sangat rawan dengan manipulasi (angka-angka, statistik etc), kenapa tidak dibuat mekanisme yang mempersempit peluang manipulasi dengan memeperbanyak cek, ricek, triple cek danlain sebagainya.
Ada satu cerita dari seorang pengajar di CRCS (yang jadi pemateri di kursus itu tadi siang yang sangat asyik dalam meyampaikan materi) mengenai peraih Nobel Fisika (aku lupa tahunnya). Peraih Nobel itu terdiri dari tiga orang (seorang muslim, seorang atheis dan seorang protestan) yang semua melakukan penelitian secara independen tapi menghasilkan temuan yang serupa. Mereka berhasil menyatukan 3 (atau empat) gaya dalam fisika menjadi 2 gaya. si Muslim mengatakan bahwa inspirasi untuk menyatukan gaya-gaya tersebut tersebut berasal dari ke Esaan Allah. Memang mereka baru berhasil menyatukan 2 gaya. Tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa semua gaya dalam fisika bisa disatukan menjadi sebuah gaya tunggal. Nah, terinspirasi dari certa tersebut, Maka menurutku, perdebatan panjang mengenai ketiga pendekatan itu sudah basi. Apalagi jika ujung-ujungnya dikaitkan pada klaim siapa yang paling benar. Oleh karena itu, hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mengatasi perdebatan tersebut adalah dengan merumuskan upaya (atau semacam pendekatan) yang lebih komprehensif, agar kita bisa semakin dekat dengan pengetahuan dan kebenaran. Toh, tidak ada yang mengetahui kebenaran dan pengetahuan yang hakiki kecuali Allah kan?
Kembali ke ungkapan yang kudengar tadi siang, sekali lagi aku merasa ungkapan itu tak pantas keluar dari mulut seorang yang sudah mempelajari pluralisme. Menjadi pluralis, tak cukup hanya dengan memahami dan mengerti perbedaan keyakinan khususnya agama saja, tapi termasuk juga memahami dan mengerti perbedaan pendekatan dalam memandang kebenaran. Pendekatan dan paradigma yang positivistik menurutku patut diapresiasi sebagai sebuah perbedaan keyakinan. Bukankah memahami danmengerti perbedaan adalah tujuan diadakannya kursus ini?
Wallahu ‘alam bishawab
catatan:
*buat yang ga paham dengan istilah-istilah ini, silakan baca tulisan atau buku-buku mengenai metodologi penelitian sosial. Versi singkat telah dikompilasi oleh Anis Chairi, FE UNDIP Semarang di: http://eprints.undip.ac.id/577/1/FILSAFAT__DAN_METODE_PENELITIAN_KUALITATIF.pdf



