<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ambar&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://ambar.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ambar.web.id</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 May 2010 23:09:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menimbang-nimbang</title>
		<link>http://ambar.web.id/?p=14</link>
		<comments>http://ambar.web.id/?p=14#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 23:09:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambar.web.id/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Segala sesuatu memang harus dipertimbangkan, baik dan buruknya, manfaat dan mudharatnya&#8230; Saat seperti itu, diperlukan informasi yang sebanyak-banyaknya untuk membantu kita memutuskan pilihan. well, i&#8217;m in the middle of deciding something.. And I need information  as mush as i can get&#8230; wish me luck
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala sesuatu memang harus dipertimbangkan, baik dan buruknya, manfaat dan mudharatnya&#8230; Saat seperti itu, diperlukan informasi yang sebanyak-banyaknya untuk membantu kita memutuskan pilihan. well, i&#8217;m in the middle of deciding something.. And I need information  as mush as i can get&#8230; wish me luck</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambar.web.id/?feed=rss2&amp;p=14</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What&#8217;s wrong with being positivistic?</title>
		<link>http://ambar.web.id/?p=10</link>
		<comments>http://ambar.web.id/?p=10#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 04:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambar.web.id/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah ungkapan yang (mungkin) tidak sengaja terlontar (dan tidak sengaja terdengar olehku) siang ini terus mengangguku. &#8220;yah&#8230; begitulah pandangan positivistik..&#8221;, ungkapan itu dilontarkan sebagai respon atas sebuah pertanyaan dalam sebuah kursus tentang studi keislaman.  Entah kenapa, ungkapan itu terus mengangguku dan tergiang-ngiang di telingaku. What&#8217;s wrong with being positivistik?

Aku bukan seorang positivistik, tidak juga terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah ungkapan yang (mungkin) tidak sengaja terlontar (dan tidak sengaja terdengar olehku) siang ini terus mengangguku. &#8220;yah&#8230; begitulah pandangan positivistik..&#8221;, ungkapan itu dilontarkan sebagai respon atas sebuah pertanyaan dalam sebuah kursus tentang studi keislaman.  Entah kenapa, ungkapan itu terus mengangguku dan tergiang-ngiang di telingaku. What&#8217;s wrong with being positivistik?<br />
<span id="more-10"></span><br />
Aku bukan seorang positivistik, tidak juga terlalu interpretatif tapi memang sedang berusaha untuk tetap kritis. Aku hanya sedikit tahu tentang positivistik. Tapi aku suka menginterpretasi segala sesuatu (dan terus mencoba untuk bisa melakukannya) dalam kerangka pandangan seorang kritis*. Tapi apa yang kudengar tadi siang, rasanya tidak pas dihatiku dan upaya-upaya ku untuk tetap bersikap kritis. Bagiku, ungkapan itu adalah salah satu bentuk penghakiman atau stereotyping. Apalagi ungkapan itu dilontarkan oleh seorang yang sudah mempelajari pluralisme.</p>
<p>Tak hanya sekali aku mendengar model penghakiman dan stereotyping semacam itu. Dalam sebuah obrolan tak resmi dengan seorang teman, dia mengemukakan sejumlah teori kenapa usulannya banyak mendapat pertanyaan sedang usulan teman lain (yang menggunakan pendekatan positivistik) tidak. Dari nada bicaranya, aku menangkap kesan bahwa pendekatan ini sudah kuno, ga elit, mengada-ada dan lain sebagainya. Dari diskusi itu, aku menarik kesimpulan awal bahwa pendekatan positivistik berada pada level yang lebih rendah dari pendekatan lain dalam ilmu sosial.</p>
<p>Memang pendekatan positivistik memiliki banyak kelemahan. Tapi kalo menggunakan hukum berpasangan (aku dapet hukum ini dalam materi tentang filsafat hukum islam di kursus yang sama, tapi pembicaranya T O P !!), setiap ada yang positif, pasti ada yang negatif. Dengan demikian, dalam kelemahan pendekatan postivistik, tentu juga ada kekuatannya. Demikian halnya dengan pendekatan interpretatif atau kritis. Oleh karena itu, menurutku yang paling tepat dilakukan adalah bukan mengejek kelemahan, akan tetapi bagaimana memaksimalkan kekuatan agar kelemahan-kelemahan tersebut bisa tertutupi. Jika postivistik punya kelemahan dalam membuat klaim tentang pengetahuan (melalui metodenya mungkin), kenapa tidak memperkaya metode positivistik agar klain tentang pengetahuannya juga jadi lebih kaya? Jika metodenya sangat rawan dengan manipulasi (angka-angka, statistik etc), kenapa tidak dibuat mekanisme yang mempersempit peluang manipulasi dengan memeperbanyak cek, ricek, triple cek danlain sebagainya.</p>
<p>Ada satu cerita dari seorang pengajar di CRCS (yang jadi pemateri di kursus itu tadi siang yang sangat asyik dalam meyampaikan materi) mengenai peraih Nobel Fisika (aku lupa tahunnya). Peraih Nobel itu terdiri dari tiga orang (seorang muslim, seorang atheis dan seorang protestan)  yang semua melakukan penelitian secara independen tapi menghasilkan temuan yang serupa. Mereka berhasil menyatukan 3 (atau empat) gaya dalam fisika menjadi 2 gaya. si Muslim mengatakan bahwa inspirasi untuk menyatukan gaya-gaya tersebut tersebut berasal dari ke Esaan Allah. Memang mereka baru berhasil menyatukan 2 gaya. Tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa semua gaya dalam fisika bisa disatukan menjadi sebuah gaya tunggal. Nah, terinspirasi dari certa tersebut, Maka menurutku, perdebatan panjang mengenai ketiga pendekatan itu sudah basi. Apalagi jika ujung-ujungnya dikaitkan pada klaim siapa yang paling benar. Oleh karena itu, hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mengatasi perdebatan tersebut adalah dengan merumuskan upaya (atau semacam pendekatan) yang lebih komprehensif, agar kita bisa semakin dekat dengan pengetahuan dan kebenaran. Toh, tidak ada yang mengetahui kebenaran dan pengetahuan yang hakiki kecuali Allah kan?</p>
<p>Kembali ke ungkapan yang kudengar tadi siang, sekali lagi aku merasa ungkapan itu tak pantas keluar dari mulut seorang yang sudah mempelajari pluralisme. Menjadi pluralis, tak cukup hanya dengan memahami dan mengerti perbedaan keyakinan khususnya agama saja, tapi termasuk juga memahami dan mengerti perbedaan pendekatan dalam memandang kebenaran. Pendekatan dan paradigma yang positivistik menurutku patut diapresiasi sebagai sebuah perbedaan keyakinan. Bukankah memahami danmengerti perbedaan adalah  tujuan diadakannya kursus ini?</p>
<p>Wallahu &#8216;alam bishawab</p>
<p>catatan:<br />
*buat yang ga paham dengan istilah-istilah ini, silakan baca tulisan atau buku-buku mengenai metodologi penelitian sosial. Versi singkat telah dikompilasi oleh Anis Chairi, FE UNDIP Semarang di: http://eprints.undip.ac.id/577/1/FILSAFAT__DAN_METODE_PENELITIAN_KUALITATIF.pdf</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambar.web.id/?feed=rss2&amp;p=10</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKU BISA: Sebuah Dongeng Sebelum Tidur</title>
		<link>http://ambar.web.id/?p=8</link>
		<comments>http://ambar.web.id/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 02:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambar.web.id/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Setiap malam sebelum anak-anak tidur, aku biasanya menceritakan sebuah dongeng. Kadang aku membacakannya dari sebuah buku, tapi kadang aku mengarangnya sendiri. Anak-anak sangat senang mendengarnya. Kadang ketika aku sangat capek setelah seharian bekerja, mereka tetap menuntut untuk sebuah cerita sebelum tidur.
Dongeng di bawah ini adalah salah satu cerita yang pernah aku ceritakan pada mereka. Nama-nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap malam sebelum anak-anak tidur, aku biasanya menceritakan sebuah dongeng. Kadang aku membacakannya dari sebuah buku, tapi kadang aku mengarangnya sendiri. Anak-anak sangat senang mendengarnya. Kadang ketika aku sangat capek setelah seharian bekerja, mereka tetap menuntut untuk sebuah cerita sebelum tidur.</p>
<p>Dongeng di bawah ini adalah salah satu cerita yang pernah aku ceritakan pada mereka. Nama-nama tokoh dalam dongeng ini aku ganti dengan nama anak-anakku. Para tokoh mempunyai profesi yang sesuai dengan cita-cita anak-anakku&#8230;. Hmmm.. semoga tercapai apa yang kau cita-citakan Nak&#8230;</p>
<p>*****</p>
<p>AKU BISA!!!</p>
<p>Kota Bantul yang damai. Para penduduknya sedang bersiap-siap untuk berangkat tidur. Sebuah kota yang dama dan penuh ketenangan&#8230;. bahkan di salah satu ruangan di Laboratorium milik Profesor Indie.</p>
<p>&#8220;AAAAHHHHHH!!!! TOLONG&#8230;TOLONG&#8230;.&#8221; sebuah teriakan memecah kedamaian dan ketenangan malam itu. Dokter Ali yang sedang membaca, terkejut hingga buku yang dipegangnya terlempar&#8230;.<br />
<span id="more-8"></span><br />
&#8220;Ada apa?&#8221; tanya dokter ali sambil tergopoh-gopoh menghampiri Profesor Indie.</p>
<p>&#8220;A&#8230;AA&#8230;ada monyet&#8230;,&#8221; kata Prof Indie sambil menunjuk seekor monyet bersorban biru. Monyet itu tampak nyengir, wajahnya menyiratkan kebengisan dan angkara murka&#8230; Di tangan monyet itu tampak sebuah benda berbentuk kipas&#8230;.</p>
<p>&#8220;ohhh&#8230; Mojo Jojo&#8230;.!!!&#8221; teriak Dokter Ali, ketika menyadari siapa monyet yang sedang tertawa jahat itu&#8230;</p>
<p>Mojo Jojo hanya tertawa melihat Prof Indie dan Dokter Ali ketakutan. Ia segera berlari keluar Lab sambil berteriak, &#8221; terima kasih Prof Indie&#8230; penemuanmu ini akan aku gunakan sebaik-baiknya&#8230;..hahahah</p>
<div>ahah!!!!&#8221;</p>
<p>Prof Indie terduduk lemas mendengar teriakan Mojo Jojo tadi. &#8221; kita tidak bisa membiarkan Mojo Jojo menggunakan penemuanku&#8230; Kita harus mencegahnya&#8230;!!&#8221; katanya dengan wajah penuh kecemasan. Dokter Ali heran mendengar kecemasan kakaknya. &#8220;memangnya kenapa, Kak? Apa yang akan dilakukan Mojo Joj dengan penemuanmu?&#8221; tanyanya heran.</p>
<p>&#8220;Kau tahu, Penemuan yang baru saja dicuri mojo jojo itu bisa membuatnya menjadi kuat dan tak terkalahkan. Penemuan itu akan membawa kota kita ke kehancuran&#8230;,&#8221; Prof Indie menjelaskan sambil menahan tangisnya. Ia tidak bisa membayangkan kota tercintanya menjadi hancur karena penemuannya&#8230;&#8221;Tapi apa yang bisa kita lakukan?&#8221; tanyanya putus asa.</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230; aku ada ide, Prof, &#8221; kata Dokter Ali penuh semangat. &#8220;Kalau penemuan itu bisa bikin Mojo Jojo jadi kuat, kenapa kau tidak membuat penemuan yang lebih kuat lagi? jadi kita bisa mengalahkan mojo jojo..,&#8221; kata Dokter Ali lagi.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; itu ide bagus, Ali,&#8221; Prof Indie menjawab setelah berpikir sesaat. Tampaknya ia bisa membayangkan apa yang harus ia lakukan. Wajahnya kembali berseri-seri dan menyiratkan semangat. Dokter Ali yang melihat kakaknya bersemangat hanya tersenyum. &#8220;Baiklah kalau begitu, aku akan ke pusat kota untuk melihat apa yang dilakukan oleh Mojo Jojo,&#8221; katanya sambil bersiap-siap. &#8220;Jika aku jadi dia, aku akan pergi ke bank pusat dan mengambil permata paling besar yang dimiliki kota ini. Dengan kekuatan yang tak terkalahkan itu, aku yakin, mojo jojo tidak akan ragu-ragu untuk melukai orang yang tak bersalah&#8230;&#8221;, kata dokter Ali. &#8220;Aku akan memastikan tidak ada korban yang jatuh tanpa mendapat pertolonganku..&#8221;, Katanya lagi.</p>
<p>Prof indie mengangguk mendengar penuturan dokter Ali. &#8220;baiklah, aku akan membuat penemuan yang lebih kuat untuk mengalahkan mojo jojo&#8230; Jika sudah selesai, aku akan menyusulmu di pusat kota&#8221;, katanya lagi.</p>
<p>Dokter Ali segera berlari menuju pusat kota. Sesampainya disana, sebuah pemandangan yang mengenaskan terlihat di depan matanya. Rupanya dugaan Dokter Ali terbukti. Mojo Jojo telah melukai banyak orang. Terdengar rintihan dan keluhan dari mulut para korban Mojo Jojo itu. Dokter Ali berusaha menolong mereka, namun korban yang jatuh terlalu banyak. Ia tak mungkin menyelamatkan para korban sambil mencegah Mojo Jojo berbuat kejahatan lain. akhirnya Dokter Ali segera menghubungi rekan-rekannya di rumah sakit dan meminta mereka untuk datang ke bank pusat. Setelah itu, Dokter Ali segera megejar Mojo Jojo. Sesaat yang lalu, Dokter Ali masih mendengar suara tawa jahat mojo jojo di kejauhan.</p>
<p>***</p>
<p>Sementara itu di laboratorium, Prof Indie sedang membuat ramuan yang akan mengalahkan mojo jojo. Berbagai formula rahasia ia campurkan ke dalam sebuah tabung. Reaksi berbagai formula itu segera menampakkan hasil. Sebuah ramuan rahasia telah selesai dibuat dan siap diminum untuk mengalahkan mojo jojo&#8230;.</p>
<p>***</p>
<p>Dokter Ali yang sedang mengejar mojo jojo, tampak mulai kelelahan. oleh karena itu dokter ali memutuskan untuk beristirahat sambil memikirkan strategi untuk mengejar mojo jojo. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benak dokter ali. Maka seorang pengendara sepeda motor yang melintas dihentikan dan dengan sopan dokter ali meminjam motor itu. tak lupa, dokter ali menjelaskan alasan kenapa ia memerlukan motor itu.</p>
<p>Mengendarai motor dengan kecepatan penuh, Dokter Ali mengejar mojo jojo. Akhirnya, dokter Ali dan mojo jojo saling berhadapan.</p>
<p>&#8220;hai mojo jojo, kembalikan penemuan kakakku dan permata yang kau curi tadi&#8230;,&#8221; teriak dokter ali. &#8220;dan menyerahlah ke pada polisi&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;hahahahah&#8230;.hahahaha&#8230;,&#8221; suara tawa mojo jojo terdengar menyeramkan. &#8220;Mengembalikan barang-barang yang sangat aku sukai ini dan kembali menjadi makhluk yang tak berdaya??? maaf saja, aku tidak akan melakukannya&#8230;,&#8221; kata mojo jojo dengan marah.</p>
<p>&#8220;kalau begitu aku akan memintanya dengan paksa&#8230;,&#8221; kata dokter ali sambil berlari maju dan menyerang mojo jojo.</p>
<p>Lalu, terjadilah pertarungan sengit antara dokter ali dan mojo jojo. akan tetapi lama kelamaan, dokter ali tidak bisa mengimbangi kekuatan mojo jojo. pada saat ia hampir kalah, tiba-tiba sebuah teriakan memecah konsetrasi kedua makhluk itu&#8230;</p>
<p>&#8220;Dokter ali&#8230;. tangkap&#8230;.,&#8221; ruapanya prof indi yang berteriak. sambil berlari mendekati dokter ali dan mojo jojo, ia melemparkan ramuan yang baru saja ia buat. dengan sigap dokter ali menangkapnya dan segera meminum ramuan itu&#8230;</p>
<p>Segera saja kekuatan dokter ali bertambah dan berlipat-lipat kali dari kekuatan mojo jojo. Mojo jojo dengan cepat bisa dikalahkan dan dibekuk oleh dokter ali.</p>
<p>&#8220;Menyerahlah, mojo jojo, para polisi sedang menuju kemari dan mereka akan membawamu ke penjara,&#8221; kata dokter ali. &#8220;satu lagi, permata dan kipas ini akan kembali pada pemiliknya..&#8221;</p>
<p>mojo jojo hanya bisa menggeram marah. namun ia tidak berdaya di bawah kekuatan dokter ali.</p>
<p>Tak lama kemudian, polisi datang dan membawa mojo jojo pergi ke penjara. &#8220;Terima kasih atas bantuan anda, dokter ali dan prof indi,&#8221; kata kepala polisi kota bantul sambil menyalami prof indi dan dokter ali. &#8220;tanpa bantuan kalian, kami tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kota ini,&#8221; katanya lagi. Dokter ali dan prof indi hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar ucapan pak kepala polisi tadi.</p>
<p>&#8220;omong-omong, sebenarnya apa sih penemuanmu itu, kak?&#8221; tanya dokter ali setelah semua kekacauan itu selesai. &#8220;Aku lihat bentuknya seperti kipas. Tapi mojo jojo memakainya di pergelangan tangannya&#8230;&#8221;, dokter alli berkata lagi sambil mengingat-ingat pertarungannya dengan mojo jojo.</p>
<p>Prof indi hanya tersenyum. &#8221; Sebenarnya, yang dicuri mojo jojo tadi, memang kipas,&#8221; katanya sambil menahan tawa.</p>
<p>&#8220;lho&#8230; maksudnya apa kak?&#8221; dokter ali heran tak habis pikir.</p>
<p>&#8220;iya, itu hanyalah sebuah kipas. namun karena mojo jojo yakin kipas itu bisa menambah kekuatannya, maka mojo jojo sanggup melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan sebelumnya,&#8221; kata prof indi lagi.</p>
<p>&#8220;ramuan yang kamu minum tadi juga cuma susu coklat kesukaanmu&#8230;Tapi karena kamu yakin bahwa ramuan itu bisa menambah kekuatan, maka kamu bisa mengalahkan mojo jojo&#8230;&#8221; prof indi menjelaskan dengan panjang lebar.</p>
<p>&#8220;hah??? jadi semua kekacauan ini karena sebuah kipas dan makhluk yang tidak percaya diri???&#8221; GEDUBRAKKKK&#8230;&#8230;dokter ali pun jatuh pingsan &#8230;. bukan karena dikalahkan mojo jojo, tapi karena ia capek berlarian dan bertarung melawan penjahat tak percaya diri, mojo jojo&#8230;..</p>
<p>MORAL:<br />
kekuatan ada dalam diri kita. kalau kita yakin kita BISA melakukan sesuatu, kita pasti bisa!! jangan pernah berkata TIDAK BISA!! kita pasti bisa&#8230;!!!</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambar.web.id/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>broken things and a bless in disguise</title>
		<link>http://ambar.web.id/?p=5</link>
		<comments>http://ambar.web.id/?p=5#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 02:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ambar.web.id/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[
I had bad experience with machine during the last two weeks.. pertama, mesin pengering pada mesin cuci ku rusak. Hal ini jadi problem karena saat ini cuaca sedang tidak menentu. Kadang ujan, kadang terang benderang. akibatnya, kami harus menunggu 2 hari agar cucian kering. untunglah ada larutan pewangi pakaian, lumayan mengurangi bau.. heheh
kedua, aki pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="8b381a533b2efc6fa7828205287d9b98" />
<div><em>I had bad experience with machine during the last two weeks..</em> pertama, mesin pengering pada mesin cuci ku rusak. Hal ini jadi problem karena saat ini cuaca sedang tidak menentu. Kadang ujan, kadang terang benderang. akibatnya, kami harus menunggu 2 hari agar cucian kering. untunglah ada larutan pewangi pakaian, lumayan mengurangi bau.. heheh</div>
<p>kedua, aki pada mobilku tidak bisa re-charge. karena tidak digunakan selama beberapa hari (terutama sejak pak nasir pergi ke Chili), aki mobilku tidak bisa re-charge. berbagai upaya sudah dilakukan, tapi tidak berhasil. well, satu-satunya solusi sih emang harus sering dipake. Tapi gimana mo pake kalo aki ga re-charge (hmm&#8230; kayak lingkaran setan).</p>
<p><span id="more-5"></span>yang masih anget, tombol angka 4, 6, dan 0 pada ponsel ku tidak bis dipencet alias rusak. kerusakan baru ketauan kemarin pagi. karena tidak bisa dipencet, terpaksa aku tidak bisa membalas sms, terutama yang mengandung huruf G, H, I, M , N, O, + atau menelepon teman yang mengandung angka tersebut. kerusakan seperti in bukan yang pertama. dulu juga pernah, tapi dengan sedikit kesok-tahu-an ku, aku bisa memperbaikinya. berbekal keyakinan tersenut, kemarin malam aku coba ulangi hal yang sama, tapi rupanya dewa keberuntunganku telah pergi. HP itu sekarang mati. Aku tidak bisa menghidupkannya karena harus memasukkan passkey untuk bisa mengakses simcardku. dan passkey ku mengandung angka 4, 6, 0! blaik tenan&#8230;.</p>
<p>ketika terjadi kerusakan seperti itu, aku jadi berpikir &#8230;</p>
<p>(emang kalo ga rusak ga mikir po..?)</p>
<p>betapa kemudahan yang telah diberikan oleh teknologi telah membuat manusia hidup dalam ketergantungan. Marcuse (1964) menyebutnya sebagai de-sublimasi represif. Suatu keadaan dimana manusia bisa memenuhi kebutuhan melalui produk-produk yang dihasilkan oleh teknologi. Padahal, menurut Marcuse, kebutuhan-kebutuhan itu adalah kebutuhan palsu (false need) yang sengaja diciptakan dengan menggunakan dunia iklan (advertising).</p>
<p>Another thought, aku berusaha mengambil hikmahnya. kerusakan yang terjadi, membuat hidup kami lebih slow, tidak terburu-buru dan pada gilirannya, bisa menikmati hidup</p>
<p>(brarti selama ini ga menikmati hidup po..?)</p>
<p>maksudku, kemajuan teknologi pada titik tertentu telah membawa pusaran kehidupan ku bergerak dengan cepat. pakaian kotor dengan cepat kembali menjadi bersih, perjalanan menjadi lebih cepat karena ada mobil atau keep connect with other by mobile phone&#8230;</p>
<p>Hmm.. hidup yang serba cepat memang asik.. tapi kadang melelahkan.. Mungkin ini cara Nya untuk memperlambat irama dan pusaran kehidupan kami, supaya kami lebih punya waktu untuk berefleksi atau sekedar bertegur sapa dengan sekitar..</p>
<p>Sementara mesin-mesin itu diperbaiki, kami bisa mencuci dengan cara konvensional, pake tangan dan menunggu sampe alam yang mengeringkannya sendiri. Kalo mobil ga bisa dipake, selalu ada moda transportasi alternatif, seperti my beloved Honda Pitung (C70) *kalo yang ini sih alasan aja ben ora bw mobil ke kantor.. heheh* Ato kalo ga bisa sms an, yo bisa pake ym, fb ato telepon lokal aja.. Wong dulu semua berjalan lancar tanpa mesin cuci, mobil ato handphone, kenapa sekarang harus risau?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ambar.web.id/?feed=rss2&amp;p=5</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
